Saya sudah bisa membaca dan menulis saat masih balita, karena ibu mengajarkan dengan penuh cinta Kami pernah hidup dengan sangat sulit di tepi sebuah rel kereta api. Tetapi apa yang ibu lakukan luar biasa. Saya sudah bisa membaca dan menulis saat balita, karena ibu mengajar dengan sabar.
Suatu hari saat berusia lima tahun, saya membuka koran bekas bungkus bawang dan cabai yang dibawa ibu pulang dari pasar. Saya baca semua dalam waktu singkat. Ibu terperangah, menatap saya dengan mata kaca.
Sejak itu, meski tak punya uang, ibu selalu membawakan saya sebuah buku cerita, sepulang dari pasar. Ibu hampir tak pernah beli baju, perhiasan atau barang-barang yang biasa dibeli oleh ibu teman-teman saya. Tapi wanita tercinta itu tak pernah berhenti mengepung saya dengan buku. Bahkan ibu membuat perpustakaan kecil di kamar saya.
Hari-hari itu seolah baru terjadi kemarin. Sapa lembut ibu, buku-buku baru dan bekas yang disampul rapi, rak-rak buku untuk perpustakaan mini kami, cerita-cerita ibu tentang buku-buku bagus yang dulu pernah dibacanya. Ide ibu untuk menyewakan buku di perpustakaan kami agar hasilnya bisa dibelikan buku baru. Menulis catatan harian bersama, membantu membuat majalah sendiri. Senyum, tawa dan semangat ibu membaca puisi dan cerita pendek yang saya tulis di bangku sekolah dasar, ajakannya ke perpustakaan. Jalan-jalan ke toko buku meski berjam-jam di sana kami hanya mampu membeli satu buku tipis….
Ah, ibu. Tahun demi tahun berlalu. Siapa kira, satu demi satu buku saya terbit. Buku-buku yang selalu ibu dekap dengan wajah haru dan ibu simpan di tempat yang bagus dan wangi. Ibunda tercinta, kau telah menciptakan seorang pengarang dari sebuah rumah kayu kecil, di pinggir rel kereta api. Tapi tahukah ibu, jutaan buku yang bisa saya tulis sekalipun tak akan pernah mampu menampung semua cinta dan terimakasih saya padamu, idola abadiku….
WELCOME
selamat berkunjung di blog ini, semoga dengan bahan yang tersedia di laman blog ini dapat membantu anda
Selasa, 07 Desember 2010
Doa Yang Selalu Dikabulkan
Pagi itu, 3 Mei 1998, dari Jakarta, saya diundang mengisi seminar di IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Saya duduk di bangku kedua dari depan sambil menunggu kedatangan pembicara lain, Mimin Aminah, yang belum saya kenal. Jam sembilan tepat, panitia menghampiri saya dan memperkenalkan ia yang baru saja tiba. Saya segera berdiri menyambut senyumnya yang lebih dulu merekah. Ia seorang yang bertubuh besar, ramah, dalam balutan gamis biru dan jilbab putih yang cukup panjang. Kami berjabat tangan erat, dan saat itu tegas dalam pandangan saya dua kruk (tongkat penyangga yang dikenakannya) serta sepasang kaki lemah dan kecil yang ditutupi kaos kaki putih. Sesaat batin saya hening, lalu melafazkan kalimat takbir dan tasbih.
Saat acara seminar dimulai, saya mendapat giliran pertama. Saya bahagia karena para peserta tampak antusias. Begitu juga ketika giliran Mimin tiba. Semua memperhatikan de-ngan seksama apa yang disampaikannya. Kata-kata yang dikemukakannya indah dengan retorika yang menarik. Wawasannya luas, pengamatannya akurat.
Saya tengah memandang wajah dengan pipi merah jambu itu saat Mimin berkata dengan nada datar. “Saya diuji Allah dengan cacat kaki ini seumur hidup saya.”
Ia tersenyum. “Saya lahir dalam keadaan seperti ini. Mungkin banyak orang akan pesimis menghadapi keadaan yang demikian, tetapi sejak kecil saya telah memohon sesuatu pada Allah. Saya berdoa agar saat orang lain melihat saya, tak ada yang diingat dan disebutnya kecuali Allah,” Ia terdiam sesaat dan kembali tersenyum. “Ya, agar mereka ingat Allah saat menatap saya. Itu saja.”
Dulu tak ada orang yang menyangka bahwa ia akan bisa kuliah. “Saya kuliah di Fakultas Psikologi,” katanya seraya menambahkan bahwa teman-teman pria dan wanita di Universitas Islam Bandung—tempat kuliahnya itu—senantiasa bergantian membantunya menaiki tangga bila kuliah diadakan di lantai dua atau tiga. Bahkan mereka hafal jam datang serta jam mata kuliah yang diikutinya. “Di antara mereka ada yang membawakan sebelah tongkat saya, ada yang memapah, ada juga yang menunggu di atas,” kenangnya.
Dan civitas academica yang lain? Menurut Mimin ia sering mendengar orang menyebut-nyebut nama Allah saat menatapnya. “Mereka berkata: Ya Allah, bisa juga ya dia kuliah,” senyumnya mengembang lagi. “Saya bahagia karena mereka menyebut nama Allah. Bahkan ketika saya berhasil menamatkan kuliah, keluarga, kerabat atau teman kembali memuji Allah. Alhamdulillah, Allah memang Maha Besar. Begitu kata mereka.”
Muslimah bersahaja kelahiran tahun 1966 ini juga berkata bahwa ia tak pernah bermimpi akan ada lelaki yang mau mempersuntingnya. “Kita tahu, terkadang orang normal pun susah mendapatkan jodoh…, apalagi seorang yang cacat seperti saya. Ya tawakal saja.”
Makanya semua geger, ketika tahun 1993 ada seorang lelaki yang saleh, mapan dan normal melamarnya. “Dan lagi-lagi saat walimah, saya dengar banyak orang menyebut-nyebut nama Allah dengan takjub. Allah itu maha kuasa, ya. Maha adil! Masya Allah, Alhamdulillah, dan sebagainya,” ujarnya penuh syukur.
Saya memandang Mimin dalam. Menyelami batinnya dengan mata mengembun.
“Lalu saat saya hamil, hampir semua yang bertemu saya, bahkan orang yang tak mengenal saya, menatap takjub seraya lagi-lagi mengagungkan asma Allah. Ketika saya hamil besar, banyak orang menyarankan agar saya tidak ke bidan, melainkan ke dokter untuk operasi. Bagaimana pun saat seorang ibu melahirkan otot-otot panggul dan kaki sangat berperan. Namun saya pasrah. Saya merasa tak ada masalah dan yakin bila Allah berkehendak semua akan menjadi mudah. Dan Alhamdulillah, saya melahirkan lancar dibantu bidan,” pipi Mimin memerah kembali. “Semua orang melihat saya dan mereka mengingat Allah. Allahu Akbar, Allah memang Maha Adil, kata mereka berulang-ulang.”
Hening. Ia terdiam agak lama.
Mata saya basah, menyelami batin Mimin. Tiba-tiba saya merasa syukur saya teramat dangkal dibandingkan nikmatNya selama ini. Rasa malu menyergap seluruh keberadaan saya. Saya belum apa-apa. Yang selama ini telah saya lakukan bukanlah apa-apa.
Astaghfirullah. Tiba-tiba saya ingin segera turun dari tempat saya duduk sebagai pembicara sekarang, dan pertamakalinya selama hidup saya, saya menahan airmata di atas podium. Bisakah orang ingat pada Allah saat memandang saya, seperti saat mereka memandang Mimin?
Saat seminar usai dan Mimin dibantu turun dari panggung, pandangan saya masih kabur. Juga saat seorang (dari dua) anaknya menghambur ke pelukannya. Wajah teduh Mimin tersenyum bahagia, sementara telapak tangan kanannya berusaha membelai kepala si anak. Tiba-tiba saya seperti melihat anak saya, yang selalu bisa saya gendong kapan saya suka. Ya, Allah betapa banyak kenikmatan yang Kau berikan padaku.
Ketika Mimin pamit seraya merangkul saya dengan erat dan berkata betapa dia men-cintai saya karena Allah, seperti ada suara menggema di seluruh rongga jiwa saya. “Subhanallah, Maha besar Engkau ya Robbi, yang telah memberi pelajaran pada saya dari pertemukan dengan hambaMu ini. Kekalkanlah persaudaraan kami di Sabilillah. Selamanya. Amin.”
Mimin benar. Memandangnya, saya pun ingat padaNya. Dan cinta saya pada Sang Pencipta, yang menjadikan saya sebagaimana adanya, semakin mengkristal.
(HTR, dari: Pelangi Nurani, Penerbit Syaamil, 2000)
Saat acara seminar dimulai, saya mendapat giliran pertama. Saya bahagia karena para peserta tampak antusias. Begitu juga ketika giliran Mimin tiba. Semua memperhatikan de-ngan seksama apa yang disampaikannya. Kata-kata yang dikemukakannya indah dengan retorika yang menarik. Wawasannya luas, pengamatannya akurat.
Saya tengah memandang wajah dengan pipi merah jambu itu saat Mimin berkata dengan nada datar. “Saya diuji Allah dengan cacat kaki ini seumur hidup saya.”
Ia tersenyum. “Saya lahir dalam keadaan seperti ini. Mungkin banyak orang akan pesimis menghadapi keadaan yang demikian, tetapi sejak kecil saya telah memohon sesuatu pada Allah. Saya berdoa agar saat orang lain melihat saya, tak ada yang diingat dan disebutnya kecuali Allah,” Ia terdiam sesaat dan kembali tersenyum. “Ya, agar mereka ingat Allah saat menatap saya. Itu saja.”
Dulu tak ada orang yang menyangka bahwa ia akan bisa kuliah. “Saya kuliah di Fakultas Psikologi,” katanya seraya menambahkan bahwa teman-teman pria dan wanita di Universitas Islam Bandung—tempat kuliahnya itu—senantiasa bergantian membantunya menaiki tangga bila kuliah diadakan di lantai dua atau tiga. Bahkan mereka hafal jam datang serta jam mata kuliah yang diikutinya. “Di antara mereka ada yang membawakan sebelah tongkat saya, ada yang memapah, ada juga yang menunggu di atas,” kenangnya.
Dan civitas academica yang lain? Menurut Mimin ia sering mendengar orang menyebut-nyebut nama Allah saat menatapnya. “Mereka berkata: Ya Allah, bisa juga ya dia kuliah,” senyumnya mengembang lagi. “Saya bahagia karena mereka menyebut nama Allah. Bahkan ketika saya berhasil menamatkan kuliah, keluarga, kerabat atau teman kembali memuji Allah. Alhamdulillah, Allah memang Maha Besar. Begitu kata mereka.”
Muslimah bersahaja kelahiran tahun 1966 ini juga berkata bahwa ia tak pernah bermimpi akan ada lelaki yang mau mempersuntingnya. “Kita tahu, terkadang orang normal pun susah mendapatkan jodoh…, apalagi seorang yang cacat seperti saya. Ya tawakal saja.”
Makanya semua geger, ketika tahun 1993 ada seorang lelaki yang saleh, mapan dan normal melamarnya. “Dan lagi-lagi saat walimah, saya dengar banyak orang menyebut-nyebut nama Allah dengan takjub. Allah itu maha kuasa, ya. Maha adil! Masya Allah, Alhamdulillah, dan sebagainya,” ujarnya penuh syukur.
Saya memandang Mimin dalam. Menyelami batinnya dengan mata mengembun.
“Lalu saat saya hamil, hampir semua yang bertemu saya, bahkan orang yang tak mengenal saya, menatap takjub seraya lagi-lagi mengagungkan asma Allah. Ketika saya hamil besar, banyak orang menyarankan agar saya tidak ke bidan, melainkan ke dokter untuk operasi. Bagaimana pun saat seorang ibu melahirkan otot-otot panggul dan kaki sangat berperan. Namun saya pasrah. Saya merasa tak ada masalah dan yakin bila Allah berkehendak semua akan menjadi mudah. Dan Alhamdulillah, saya melahirkan lancar dibantu bidan,” pipi Mimin memerah kembali. “Semua orang melihat saya dan mereka mengingat Allah. Allahu Akbar, Allah memang Maha Adil, kata mereka berulang-ulang.”
Hening. Ia terdiam agak lama.
Mata saya basah, menyelami batin Mimin. Tiba-tiba saya merasa syukur saya teramat dangkal dibandingkan nikmatNya selama ini. Rasa malu menyergap seluruh keberadaan saya. Saya belum apa-apa. Yang selama ini telah saya lakukan bukanlah apa-apa.
Astaghfirullah. Tiba-tiba saya ingin segera turun dari tempat saya duduk sebagai pembicara sekarang, dan pertamakalinya selama hidup saya, saya menahan airmata di atas podium. Bisakah orang ingat pada Allah saat memandang saya, seperti saat mereka memandang Mimin?
Saat seminar usai dan Mimin dibantu turun dari panggung, pandangan saya masih kabur. Juga saat seorang (dari dua) anaknya menghambur ke pelukannya. Wajah teduh Mimin tersenyum bahagia, sementara telapak tangan kanannya berusaha membelai kepala si anak. Tiba-tiba saya seperti melihat anak saya, yang selalu bisa saya gendong kapan saya suka. Ya, Allah betapa banyak kenikmatan yang Kau berikan padaku.
Ketika Mimin pamit seraya merangkul saya dengan erat dan berkata betapa dia men-cintai saya karena Allah, seperti ada suara menggema di seluruh rongga jiwa saya. “Subhanallah, Maha besar Engkau ya Robbi, yang telah memberi pelajaran pada saya dari pertemukan dengan hambaMu ini. Kekalkanlah persaudaraan kami di Sabilillah. Selamanya. Amin.”
Mimin benar. Memandangnya, saya pun ingat padaNya. Dan cinta saya pada Sang Pencipta, yang menjadikan saya sebagaimana adanya, semakin mengkristal.
(HTR, dari: Pelangi Nurani, Penerbit Syaamil, 2000)
Allah, Siapkah Aku Bila Engkau Ingin Bertemu
KotaSantri.com - Pernahkah Anda melihat seseorang menjelang sakaratul maut? Berapakali Anda melihat mereka yang terbelalak ketakutan, yang kesakitan atau yang hanya seperti hendak tidur? Aku punya seorang teman dekat di SMU I Binjai bernama Wati. Ia dara berjilbab yang sangat cantik, supel, berbudi, senang menolong orang lain dan selalu menjadi juara kelas. Maka seperti mendengat petir disiang hari, saat kudengar ia yang sudah sekian lama tak masuk sekolah ternyata mengidap kanker rahim. Bahkan sudah menyebar hingga stadium empat!!
Sekolah kami berduka. Para aktivis rohis amat sedih. Wati adalah motor segala kegiatan dakwah. Ide-idenya segar. Ia selalu punya terobosan baru. Ia bisa mendekati dan disukai siapapun. Sungguh, kami tak memiliki Wati yang lain. Maka betapa pedih menatapnya hari itu. Ia tergolek lemah di ranjang. Badannya menjadi amat kurus. Wajahnya pasi. Setelah sakit berbulan-bulan, hari ini ia tak mampu lagi mengenali kami!
"Wati sudah sebulan ini tak bisa bangun," kata ibunya sambil mengusap air matanya.
Namun kami berbelalak, saat baru saja ibunya selesai bicara, perlahan Wati berusaha untuk bangun. Kami semua tercengang saat ia berdiri dan berjalan melintasi kami seraya berkata dengan suara nyaris tak terdengar, "Aku mau berwudhu dan shalat Dhuha."
Serentak kami semua berebutan membimbingnya ke kamar mandi. Setelah itu ibunya memakaikannya mukena dan sarung. Sementara ayahnya kembali membaringkannya di tempat tidur karena ia terlalu lemah untuk shalat sambil berdiri. Hening. Tak seorang pun yang bersuara saat ia melakukan shalat Dhuha. Selesai shalat, saat ibunya akan membukakan mukena, ia melarang dengan halus. Lalu lama sekali dipandanginya wajah ibu, ayah dan adik-adiknya satu persatu bergantian. Dari mulutnya terus menerus terdengar asma Allah. Kami yang menyaksikan tak kuat lagi menahan tangis.
Tiba-tiba Wati tersenyum. Ia memandang kami, teman-temannya, dengan penuh sayang. Lalu kembali memandang wajah ayah, ibu dan adik-adiknya bergantian. Kini kulihat butiran bening menetes dari sudut matanya. Lalu susah payah ia mengangkat kedua tangannya dan mendekapkannya di dada. Dengan tersenyum ia menutup kedua matanya sambil mengucapkan dua kalimat syahadat dengan sangat lancar. Innalillaahi wa inna ilaihi rooji'uun. Ia telah pergi untuk selamanya. Bagai melayang aku menyaksikan semua. Dadaku berdebar, lututku gemetar. Subhanallah, ia telah kembali dengan sangat sempurna dalam usia yang baru 18 tahun. Tiba-tiba, antara ilusi dan kenyataan, aku mencium wewangian. Tubuhku bergidik. Aku menangis terisak-isak.
Allah, siapkah aku bila Engkau ingin bertemu?
Seperti dituturkan sahabat Wati kepada Helvy Tiana Rosa - Disadur dari buku Lentera Kehidupan : Cerita Luar Biasa dari Orang-orang Biasa
Sekolah kami berduka. Para aktivis rohis amat sedih. Wati adalah motor segala kegiatan dakwah. Ide-idenya segar. Ia selalu punya terobosan baru. Ia bisa mendekati dan disukai siapapun. Sungguh, kami tak memiliki Wati yang lain. Maka betapa pedih menatapnya hari itu. Ia tergolek lemah di ranjang. Badannya menjadi amat kurus. Wajahnya pasi. Setelah sakit berbulan-bulan, hari ini ia tak mampu lagi mengenali kami!
"Wati sudah sebulan ini tak bisa bangun," kata ibunya sambil mengusap air matanya.
Namun kami berbelalak, saat baru saja ibunya selesai bicara, perlahan Wati berusaha untuk bangun. Kami semua tercengang saat ia berdiri dan berjalan melintasi kami seraya berkata dengan suara nyaris tak terdengar, "Aku mau berwudhu dan shalat Dhuha."
Serentak kami semua berebutan membimbingnya ke kamar mandi. Setelah itu ibunya memakaikannya mukena dan sarung. Sementara ayahnya kembali membaringkannya di tempat tidur karena ia terlalu lemah untuk shalat sambil berdiri. Hening. Tak seorang pun yang bersuara saat ia melakukan shalat Dhuha. Selesai shalat, saat ibunya akan membukakan mukena, ia melarang dengan halus. Lalu lama sekali dipandanginya wajah ibu, ayah dan adik-adiknya satu persatu bergantian. Dari mulutnya terus menerus terdengar asma Allah. Kami yang menyaksikan tak kuat lagi menahan tangis.
Tiba-tiba Wati tersenyum. Ia memandang kami, teman-temannya, dengan penuh sayang. Lalu kembali memandang wajah ayah, ibu dan adik-adiknya bergantian. Kini kulihat butiran bening menetes dari sudut matanya. Lalu susah payah ia mengangkat kedua tangannya dan mendekapkannya di dada. Dengan tersenyum ia menutup kedua matanya sambil mengucapkan dua kalimat syahadat dengan sangat lancar. Innalillaahi wa inna ilaihi rooji'uun. Ia telah pergi untuk selamanya. Bagai melayang aku menyaksikan semua. Dadaku berdebar, lututku gemetar. Subhanallah, ia telah kembali dengan sangat sempurna dalam usia yang baru 18 tahun. Tiba-tiba, antara ilusi dan kenyataan, aku mencium wewangian. Tubuhku bergidik. Aku menangis terisak-isak.
Allah, siapkah aku bila Engkau ingin bertemu?
Seperti dituturkan sahabat Wati kepada Helvy Tiana Rosa - Disadur dari buku Lentera Kehidupan : Cerita Luar Biasa dari Orang-orang Biasa
Agar Dia Tak Membuang Saya
Mukminah seorang penggembira yang senang menolong siapa saja. Di Panti Werdha I, Cipayung ini, ia selalu membantu para manula. Mulai dari mengambilkan makanan, menuntun mereka ke kamar mandi, menemani para orangtua itu memeriksakan kesehatan pada dokter keliling, menghibur, dan apa pun yang bisa dilakukannya. Hari-hari yang mungkin terasa suram, menjadi lebih cerah dengan kehadiran dan kebaikan perempuan gemuk, putih, bermata sipit itu.
“Saya harus berdoa. Saya senang ibadah…,” ujarnya sekali waktu.
Tetapi tak banyak yang tahu, apa yang ia ceritakan pada saya, di suatu hari. Dulu, ia adalah bayi kecil yang ditemukan di depan panti sebuah rumah sakit di Cirebon. Seorang Haji keturunan Arab mengambil dan membesarkannya. Kemudian ia menikah dengan seorang lelaki sederhana yang memberinya seorang putri cantik. Sayang, sang suami meninggal tak lama kemudian. Ia pun jatuh bangun membesarkan anak satu-satunya dengan segala rasa cinta dan tanggung jawab. Anaknya tumbuh dewasa, menikah, namun dililit kemiskinan. Menantunya yang bertemperamen kasar mengusirnya, sebelum mereka pindah entah kemana.
“Saya dibuang saat dilahirkan, lalu dibuang lagi di sini, ketika tua,” ujarnya pelan dengan mata berkaca-kaca. “Maka, apa yang ingin saya lakukan sekarang hanyalah berbuat kebaikan, agar satu-satunya harapan saya, Dia, meridhoi. Ya, agar Dia meridhoi, dan tidak membuang saya… di neraka.”
Setiap kali melewati Panti Werdha I, Cipayung, saya selalu teringat perkataan Mukminah, nenek berusia lebih dari 65 tahun itu, yang selalu senang menolong siapa saja. Dan saya selalu berdoa untuknya.
(HTR, dari Pelangi Nurani, Penerbit Syaamil, 2003)
“Saya harus berdoa. Saya senang ibadah…,” ujarnya sekali waktu.
Tetapi tak banyak yang tahu, apa yang ia ceritakan pada saya, di suatu hari. Dulu, ia adalah bayi kecil yang ditemukan di depan panti sebuah rumah sakit di Cirebon. Seorang Haji keturunan Arab mengambil dan membesarkannya. Kemudian ia menikah dengan seorang lelaki sederhana yang memberinya seorang putri cantik. Sayang, sang suami meninggal tak lama kemudian. Ia pun jatuh bangun membesarkan anak satu-satunya dengan segala rasa cinta dan tanggung jawab. Anaknya tumbuh dewasa, menikah, namun dililit kemiskinan. Menantunya yang bertemperamen kasar mengusirnya, sebelum mereka pindah entah kemana.
“Saya dibuang saat dilahirkan, lalu dibuang lagi di sini, ketika tua,” ujarnya pelan dengan mata berkaca-kaca. “Maka, apa yang ingin saya lakukan sekarang hanyalah berbuat kebaikan, agar satu-satunya harapan saya, Dia, meridhoi. Ya, agar Dia meridhoi, dan tidak membuang saya… di neraka.”
Setiap kali melewati Panti Werdha I, Cipayung, saya selalu teringat perkataan Mukminah, nenek berusia lebih dari 65 tahun itu, yang selalu senang menolong siapa saja. Dan saya selalu berdoa untuknya.
(HTR, dari Pelangi Nurani, Penerbit Syaamil, 2003)
Mengajar Keledai Membaca
| |
| Seseorang memberikan hadiah seekor keledai kepada sang amir. Orang-orang yang hadir ketika itu mulai memuji-muji binatang itu. Akhirnya seseorang berkata: "Aku malah dapat mengajar keledai ini membaca buku." Sang amir pun menjadi murka dan berkata, "Kamu harus dapat membuktikannya. Bawa keledai ini dan ajarilah ia membaca dalam waktu satu bulan. Jika tak berhasil, akan kupenggal kepalamu. Jika berhasil, akan kuberi hadiah kamu sepuluh keping emas." Si lelaki itu lalu membawa keledai itu pulang. Setelah beberapa hari mengembara dia berjumpa dengan seorang sufi di jalan dan menceritakan ancaman berat sang amir. Sang sufi berkata: "Ambillah sebuah kitab yang besar, seperti kitab filsafat, dan letakkan jerami di antara lembar-lembar halaman kitab itu. Buatlah supaya keledai itu lapar selama sehari, lalu bukalah kitab itu di depan binatang itu, dan bukalah lembar demi lembar halaman kitab itu begitu keledai itu makan jerami dari tiap-tiap halaman. Pada akhir bulan, sebelum bertemu dengan sang amir, buatlah binatang itu tetap lapar lagi. Pada hari yang telah ditentukan, bawalah keledai itu kepada amir bersama-sama dengan kitab itu, tetapi kali ini jangan letakkan jerami di antara halaman-halaman kitab itu." Orang itu melakukan apa yang dinasihatkan oleh sang sufi dan meyakinkan sang amir bahwa dia telah mengajari keledai itu bukan saja membaca, tetapi juga membaca filsafat. |
melihat gajah
| |
| Seorang pria pergi ke rumah kekasihnya. Ia datang dan mengetuk pintu rumah perempuan yang dicintainya. ''Siapa itu?'' tanya sang kekasih. Ia menjawab,''Aku.'' ''Pergilah,'' kata sang kekasih lagi. Ini terlalu cepat; padahal di mejaku tak tersedia tempat buat yang masih mentah. Betapa yang mentah kan dapat dimasak kalau bukan dalam api ketiadaan? Apa lagi yang dapat melepaskannya dari kemunafikan? Dengan sangat kecewa, pria itu meninggalkan rumah kekasihnya. Selama satu tahun, api perpisahan membakar hatinya. Kemudian ia datang lagi dan melangkah menuju rumah kekasihnya. Ia mengetuk pintu dan seratus harapan dan kecemasan, kalau-kalau dari bibirnya terlontar kata-kata yang tak berkenan. ''Siapa itu,'' tanya sang kekasih dari balik pintu. Pria itu menjawab,'' Engkau, wahai pesona segala hati.'' ''Kini masuklah,'' kata sang kekasih. ''Karena Engkau adalah Aku. Di rumah ini tak ada tempat untuk dua Aku.'' Melihat Gajah Adalah seekor gajah di rumah yang gelap. Beberapa orang Hindu membawanya untuk dipertunjukkan. Karena melihat dengan mata tak mungkin, setiap orang meraba dengan tangannya. Mereka lantas mendefinisikan gajah itu berdasar perabaannya saja. Tangan yang seorang menyentuh belalainya. Ia berkata, ''Mahluk ini seperti pipa air.'' Yang lain meraba telinganya. Baginya gajah seperti kipas yang lebar. Yang lain memegang kakinya dan ia berkata, ''Aku dapati bentuk gajah seperti sebuah tiang.'' Yang lain meletakkan tangannya di punggungnya dan ia berkata, ''Sesungguhnya gajah ini menyerupai singgahsana.'' Setelah masing-masing memasang lilin di tangannya, perbedaan pun akan lenyap dari kata-kata mereka. Semua benar namun hanya sepotong-sepotong. Untuk melihat kebenaran, kita harus mempelajari banyak hal dan menyeluruh. |
Shaikh Mukhtar dan Perampok
Syaikh Mukhtar adalah pemimpin tarekat Qadiriyya di Afrika Utara. Dia tinggal di sebuah pusat zikir (zawiya) di lereng gunung. Satu hari ia memindahkan zawiyanya ke tengah hutan. Tiga orang perampok yang tinggal di sekitar hutan dan mengenal liku-liku hutan itu berniat merampoknya. Mereka akan mencuri sapi milik shaikh. Mereka memulai pekerjaannya. Setelah membawa seekor sapi milik shaikh, mereka kelaparan. Dua orang memutuskan kembali untuk meminta makanan sementara yang seorang lagi bersembunyi di hutan dengan sapi curian. Kedua temannya datang mengunjungi shaikh. Betapa terperanjatnya mereka begitu melihat shaikh sudah berdiri di muka pintu menyambut kedatangan mereka. ''Assalamualaikum, silakan masuk,'' kata shaikh. Dengan wajah penuh heran, dua perampok itu duduk menghadapi hidangan yang disiapkan shaikh. ''Silakan istirahat dulu sebelu melanjutkan perjalanan kalian,'' ujar shaikh. Pria berusia menjelang senja itu minta izin kembali ke mushallanya untuk melanjutkan zikirnya yang tertunda. Kedua kawanan perampok itu berniat lari tanpa minta izin setelah perutnya kenyang. ''Tunggu,'' kata Shaikh. Mereka berbalik kembali dengan wajah penuh tanda tanya. Shaikh menghilang sebentar dan kembali dengan beberapa potong roti. ''Ini untuk kawan kalian yang berada di hutan. Bukankah kalian bertiga,'' kata Shaikh. Tanpa mengucapkan terima kasih, dua orang itu berlari dengan roti pemberian shaikh. Mereka menceritakan apa yang dijumpainya kepada rekannya yang bersembunyi di hutan. Merasa ada yang janggal, mereka urung membawa lari sapi milik shaikh. Tiga bulan kemudian, shaikh mengutus salah seorang muridnya kepada komplotan perampok bernama Alhiresh itu. Muridnya berhasil membawa Alhiresh ke hadapan shaikh. ''Bertobatlah kepada Tuhan. Hentikan kegiatan kalian. Itu tidak baik,'' kata Sidi Mukhtar. ''Tak mungkin, dari merampoklah kami hidup,'' kata Alhiresh. ''Kalau begitu, tinggallah di sini. Aku akan menjamin hidup kalian sampai akhir hayat,'' kata shaikh. ''Bagaimana mungkin, aku diampuni. Terlalu banyak orang yang aku bunuh,'' sambung Alhiresh. ''Tuhan maha pemaaf. Mohon ampun dan jangan ulangi perbuatan itu.'' Maka perampok itu kemudian tinggal bersama shaikh hingga akhir hayatnya. Mereka menjadi murid yang paling setia dan tekun berzikir. Makanan Keimanan Sidi Muhammad ben Ali adalah anak dari Sidi Mukhtar pemimpin tarekat Qadiriyya. Satu kali selagi ia masih muda, ia diundang makan di rumah seorang ulama terkenal. Dia datang dan melihat banyak pemimpin suku hadir di rumah ulama tersebut. Orang-orang yang datang tahu, ulama itu sangat murah dan selalu menghidangkan makanan lezat. Ketika si ulama masuk ke dalam kamar, mereka menduga-duga makanan apa yang akan disajikan hari itu. Betapa terperanjatnya mereka ketika melihat yang dikeluarkan cuma sup sayuran yang tak enak dimakan. Mereka melihatnya ogah-ogahan ketika ulama itu mempersilakan semua tamunya menyantap makanan. Tapi tidak dengan Sidi Muhammad ben Ali. Anak muda itu menyantap habis makanan yang disediakan shaikh pemilik rumah. Yang lain bahkan tak mau menyentuhnya. Usai menyediakan makanan, shaikh itu menyampaikan pesan yang membuat semua yang hadir mencucurkan air mata. Dia menceritakan rahasia di balik makanan yang tak enak itu. Kelak, Sidi Muhammad ben Ali menjadi ulama terkenal yang memimpin juga tarekat Qadiriyya. |
Langganan:
Postingan (Atom)