WELCOME

selamat berkunjung di blog ini, semoga dengan bahan yang tersedia di laman blog ini dapat membantu anda
Tampilkan postingan dengan label Cerita Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Hati. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Desember 2010

Nikmat yang Tak Habis Disyukuri

Tahukah Anda apa yang membanggakan saya dari seorang Kinan Nasanti?

Setiap orang merasa aman mempercayakan rahasia mereka padanya! Begitu banyak teman (bahkan yang baru mengenalnya) menjadikannya tempat curhat.

“Saya sudah cerita semua masalah saya pada Kinan, Mbak,” kata Vita.

“Aku ceritakan saja semua pada Mbak Kinan,” tutur Dian.

“Aku sampai nangis lho curhat ke Kinan,” kali ini Wida.

“Mbak Kinan, aku mau ceritaaaa….”

“Nan, ada waktu nggak untuk dengar ceritaku?” tanya Ika.

Dan apa yang dilakukan Kinan?

Ia mendengar dengan telinga dan hati sekaligus. Ia tidak semata menunjukkan simpati, tapi empati. Ia berusaha mencari solusi atau memberi nasehat yang berarti. Lebih dari itu, komitmen. “Insya Allah kita hadapi bersama, ya. Saya akan bantu. Semoga Allah memberi kekuatan.”

Tapi tahukah Anda siapa Kinan sebenarnya? Ia hanya seorang muslimah biasa dengan tubuh yang sangat mungil (serupa anak saya yang menjelang kelas II SD). Hari-harinya adalah cobaan. Ayahnya sudah meninggal. Sang ibu sakit-sakitan. Ia masih harus menghadapi seorang kakak yang tidak stabil secara mental serta seorang adik yang sakit jiwa! Belum lagi masalah lainnya. Dan ia menghadapi semua dengan ketabahan luar biasa.

Bagaimana bisa? Pikir saya.

“Allah, Mbak. Allah tempat bersandar yang sejati. Ia pasti tak akan membiarkan hambaNya. Ia tak akan membiarkan saya, Mbak,” katanya suatu ketika.

Di tengah dera cobaan, ia bisa lulus kuliah dari Universitas Indonesia dengan nilai baik. Ia mengajar di sebuah pesantren dan dicintai begitu banyak muridnya. Ia masih sempat bekerja di sebuah penerbitan, menulis untuk beberapa majalah dan antologi cerpen bersama, membina majelis taklim, menjadi pengurus organisasi Forum Lingkar Pena dan aktif dalam berbagai kegiatan Partai Keadilan di wilayahnya.

Tidak hanya itu. Hari-hari belakangan ini ia sibuk memikirkan teman-temannya yang belum menikah pada usia menjelang atau lebih dari 30 tahun. Dan mencoba mencarikan untuk mereka lelaki muslim yang baik.

Tidak memikirkan diri sendiri. Tidak rendah diri karena tubuh mungilnya. Hanya kerendahan hati. Tak ada duka karena derita. Hanya mata yang berbinar dan senyum, saat bertemu kami.

Tahukah Anda kalimat yang sering ia ucapkan kala bersama kami?

“Maha Besar Allah yang memberi saya kenikmatan yang tak habis untuk disyukuri.”

Loni Dan Gadis Kecil

Tak seorang pun di sekolah yang mau bermain dengan Loni, sampai muncul seorang gadis kecil di kelasnya, pada suatu pagi. 

“Kamu boleh duduk di mana saja,” kata guru kelas pada si gadis kecil.
Gadis kecil berusia sembilan tahun itu menatap sekeliling kelas dan melihat beberapa bangku kosong di sekitar. Lalu pandangannya bertemu dengan binar harapan di mata Loni, anak perempuan bertubuh setinggi Ibu Guru, dengan rambut kepang dua seperti dirinya. Dengan yakin ia mengambil tempat duduk di samping Loni, diiringi pandangan heran dari semua murid.

Beberapa jam kemudian isi kelas dikejutkan dengan penyakit Loni yang muncul tiba-tiba. Loni kejang-kejang! Bulatan hitam di matanya nyaris menghilang. Dari mulutnya keluar busa. Beberapa teman Loni menyingkir, yang lain berbisik-bisik dan tertawa. Si gadis kecil tampak cemas. Bersama beberapa guru ia menemani Loni ke puskesmas terdekat.

Seminggu kemudian, setelah pulih, Loni tampak takjub karena murid baru, gadis kecil itu masih duduk di situ. “Mengapa kamu duduk di sini?” tanyanya. “Mengapa kamu mau bermain dengan saya? Apa kamu tidak tahu saya punya penyakit aneh?” tanya Loni terbata-bata. Tetapi si gadis kecil hanya tersenyum.

Ketika Loni diusili teman sekelas, ketika ada yang menjambak dan menendang Loni, ke­ti­ka semua beramai-ramai mengejek Loni, gadis kecil membelanya. Begitu juga sebaliknya. Loni akan bersedih dan mencoba membantu sebisanya ketika gadis kecil mendapat kesulitan. Di waktu luang, gadis kecil mengajari Loni pelajaran sekolah. Semakin lama mereka semakin akrab. Gadis kecil berhasil menjadi juara kelas. Loni yang dua tahun tinggal kelas dapat naik ke kelas empat.

Suatu hari Loni tak masuk sekolah. Berhari-hari, bahkan berbulan-bulan Loni tak muncul. Gadis kecil sedih mendengar Loni tak lagi sekolah. Kedua orangtuanya bilang percuma menyekolahkan Loni, sebab penyakit Loni sering kambuh. Ia juga sering mengamuk pada siapa saja.

Gadis kecil sedih. Ia datang ke rumah Loni, tetapi Loni tak ada. Gadis kecil tak percaya ketika orang-orang berkata Loni kini menjadi anak jalanan, berkeliaran di jalan-jalan.

Suatu sore, si gadis kecil itu pulang menuju rumahnya. Ia harus berjalan melalui lorong pasar yang sudah cukup gelap. Tak seorang pun di sana, ketika tiga lelaki jahat tiba-tiba menyergapnya! Gadis kecil tak bisa berteriak karena mulutnya disekap. Ia akan diseret ke tempat yang lebih gelap! Tiba-tiba sesosok bayangan datang dan memukuli orang-orang itu sambil berteriak. Ia mengibas-ngibaskan rantai panjang yang dibawanya ke udara. Para lelaki itu kocar-kacir. Orang-orang mulai berdatangan mendengar lengkingannya.

“Loni!” panggil gadis kecil gembira.

Loni membelai rambut gadis kecil dan memeluknya. Tetapi ia tampak sangat berbeda. Ia begitu lusuh. Bajunya sobek di sana-sini. Pergelangan tangannya dipenuhi karet warna-war­ni. Begitu juga rambutnya. Rantai panjang yang sejak tadi dipegangnya, kini dililitkannya di pinggang. Airmatanya tiba-tiba menitik ketika ia berkata, ”Hanya ka­mu…temanku…, hanya kamu….”

Tahun terus berlalu. Gadis kecil tumbuh remaja. Ia tahu, ia mempunyai seorang teman yang hingga kini masih berkeliaran di jalan dan di pasar-pasar. Sesekali ia menyelusuri pasar dan jalan-jalan, berharap dapat bertemu dengan Loni.

“Orang gila! Orang Gila! Lariii!”

“Loni gila! Loni gilaa!”

Gadis kecil masih menawarkan persahabatan seperti dulu, tetapi Loni menghindari.

“Loni, kamu temanku…kamu tidak gila!” kata si gadis. “Aku akan menolongmu….”

Airmata Loni berderai. “Kamu temanku…,pergilah…," suaranya pelan. “Hanya kamu…temanku selamanya…,satu-satunya…, karena itu…kamu harus…pergi….”

Sejak saat itu gadis itu tak pernah lagi bertemu dengan Loni. Tetapi di mana pun Loni berada, gadis itu tahu Loni akan selalu berada di hatinya.

Kak Seto


Milis DT - Bagi saya Kak Seto tak pernah berubah. Ya sosoknya, wajah dan senyumnya serta kegiatannya yang selalu dekat dengan dunia anak. Memang banyak tokoh pemerhati anak di Indonesia, tapi Kak Seto selalu mendapat empat tersendiri.

Saya tidak mengenal Kak Seto secara pribadi. Meski demikian, saya tak mungkin lupa pengalaman saya lebih kurang 27 tahun lalu. Saat itu, tahun 1978, saya baru duduk di kelas II SD Bhayangkari I Bandung. Saya dan teman-teman Binavokalia asuhan Pak Isnendro datang dari Bandung ke stasiun TVRI menghadiri undangan Aneka Ria Anak-Anak.

Sejak dari Bandung saya sudah kesal dan sedih. Persoalannya sederhana. Kami semua memakai bando berpita di atas kepala, namun bando saya lebih mirip tali panjang. Pitanya nyaris tak kelihatan. Saya tak tahu mengapa begitu, tapi itu membuat saya jadi berbeda dengan anak lainnya. Saya merasa saya dianaktirikan dalam grup tersebut, meski sebenarnya tidak demikian. Kebetulan saja, saya satu-satunya yang tidak kebagian pita besar. Tapi ya begitulah perasaan saya, seorang anak kelas II SD.

Ketika acara saya berusaha agar bisa duduk dekat dengan Kak Seto dan Kak Heny Purwonegoro. Apa daya? Tubuh kurus kecil saya kalah melawan teman-teman lain yang gemuk, tinggi dan sudah kelas empat ke atas. Akhirnya saya cuma kebagian berdiri di pojok belakang. Padahal saya ingin sekali bertemu dengan mereka! Saya bahkan harus berjinjit untuk meyakinkan bahwa wajah saya benar-benar bisa masuk kotak televisi!

Dalam acara tersebut saya dan teman-teman menyanyikan 3 lagu, diselingi tarian dari sanggar lain.

Tanpa saya duga sebelumnya, entah mengapa, Kak Henny dan Kak Seto memanggil saya ke tengah, dekat mereka.

Saya terperangah. Apa yang terjadi?

"Adik, sini! Namanya siapa? Tanya Kak Seto.

"Helvy," kata saya.

"Helvy, kamu menyanyi sendiri ya!" kata Kak Henny.

Kak Seto mengangguk sambil tersenyum khas.

Saya tergeragap. Tidak mungkin, pikir saya, si anak kecil umur 8 tahun. Apa saya mau mengacaukan semua acara? Tidak ada saya menyanyi sendiri di jadwal! Adanya ramai-ramai! Mungkin karena suara saya memang "STD" (mengutip Meutia Kasim untuk kata "standar").

Saya menggeleng.

"Mengapa? Kamu tetap boleh menyanyi sendiri," ujar Kak Seto.

"Saya takut dimarahi sutradaranya," kata saya sekenanya.

Kak Seto dan Kak Henny tertawa.

"Tidak, kan kami yang meminta," kata Kak Henny.

Saya menggeleng kuat-kuat. Bagaimana kalau makin banyak orang yang melihat bando jelek yang saya pakai?

Kak Seto membelai kepala saya dan berkata. "Baik, kalau kamu tidak mau tak apa. Tapi banyak tersenyum ya."

Saya mencoba tersenyum.

"Kamu manis pakai bando itu. Apalagi kalau sambil senyum ya,dik " tambah Kak Seto.

Saya sungguh tidak tahu apakah mereka memperhatikan pita yang tidak mengembang di bando saya, atau wajah saya yang menyiratkan kesedihan karena berdiri di pojok. Yang jelas sepanjang acara kemudian saya jadi banyak tersenyum dan tak mengingat bando saya lagi. Saya jadi sangat percaya diri. Soalnya saya mendapat sapa istimewa dari Kak Henny dan Kak Seto yang saya kagumi itu!

Sampai sekarang apa yang dilakukan mereka sangat mengesankan saya. Saya, anak kecil dengan bando jelek --yang pegal berdiri di pojok dan takut wajahnya tak bisa masuk kotak televisi itu--- merasa sangat dihargai saat itu.

Saya sempat bertemu Kak Seto beberapa kali lagi. Yang pertama waktu Kak Seto menyerahkan piala Juara I Lomba Menulis Surat untuk Presiden RI, tahun 2004, di TIM, untuk anak saya Faiz. Yang kedua, saat saya mengantar Faiz mengikuti acara Who Wants to be A Presiden di TPI, di mana Kak Seto menjadi salah satu panelis. Seperti biasa Kak Seto tak pernah lepas tersenyum dan selalu menyapa.

Dan kemarin, tanggal 3 Februari, di istana negara, saya berkesempatan bertemu kembali dengan Kak Seto dalam acara Gerakan Nasional Saling Berkirim Surat untuk Anak Aceh dan Nias. Saya hadir sebagai pembimbing FLP Kids, kelompok penulis anak yang diundang oleh Komnas Anak. Saya hadir sebagai Bunda Abdurahman Faiz, anak saya yang langsung mendapat undangan dari Komnas anak yang dipimpin Kak Seto.

Saat semua undangan termasuk saya saling bersalaman dengan Bapak Presiden dan Kak Seto, saya menyapanya dengan berkata, "Terimakasih undangannya, Kak Seto. Saya ibu Abdurahman Faiz."

Kak Seto tersenyum dan manggut-manggut dengan wajah yang telah saya akrabi lebih dari 27 tahun lalu. "Terimakasih juga, bu," tuturnya.

Sungguh, Kak Seto secara konsisten telah melakukan begitu banyak hal buat anak-anak Indonesia. Perjuangannya bahkan tergurat tulus dalam wajahnya yang tak pernah tampak letih dan awet itu. Ia tersenyum, ia menitikkan airmata bersama jutaan anak-anak Indonesia.

Saya bukan orang yang mengenal Kak Seto secara pribadi, tapi hari ini saya ingin mengucapkan sesuatu: Terimakasih Kak Seto. Terimakasih karena kau telah membawa anak-anak Indonesia dalam hatimu sampai begitu jauh. Terimakasih karena kau selalu peduli pada senyum, pada tangisan, pada semua yang mereka hadapi, apa pun itu...

Dari luar kamar, sayup-sayup suara anak saya Faiz terdengar ingin tahu. "Bunda, memangnya waktu Bunda sebesar aku, Kak Seto sudah ada? Dia kan masih muda, Bunda...."

Kabar Buat Maria


Hampir setiap hari lelaki buta dan anaknya yang berjualan es mambo itu melewati rumah keluarga Maria. Si anak yang baru berusia sekitar tujuh tahun itu, menuntun bapaknya melangkah tertatih-tatih sambil berteriak, “Es! Es mambo! Es-nya, eeeesss!!”

Biasanya tak lama kemudian, dengan langkah tergopoh-gopoh Maria akan keluar dan memanggil mereka. Maria akan membeli paling tidak sepuluh es mambo. Mengajak lelaki buta dan anaknya untuk mampir beristirahat sejenak di rumah kontrakan keluarganya yang sederhana, juga menyuguhi mereka makanan dan minuman. Maria sangat menaruh perhatian pada mereka, seperti juga dengan segala kesederhanaan, Maria memperhatikan siapa pun yang kekurangan dan papa di sekitarnya.

“Saya akan menyekolahkan anak Bapak …, boleh?” tanya Maria suatu hari.

Lelaki buta itu mengangguk-angguk. Anaknya meloncat-loncat gembira.

“Biar nanti saya yang mengurus semuanya. Apakah di tempat Bapak ada SD Negeri yang bagus?”

“Ada,” kata Bapak itu. “Tetapi…, saya tak mau menyusahkan Ibu. Biar nanti istri saya saja yang mengurus. Kebetulan istri saya berjualan es di depan sekolahan dekat rumah….”

Maria berpikir sejenak. “Saya tak keberatan untuk mendaftarkan….”

“Tapi, bu…, bila istri saya yang mendaftarkan, lebih baik, karena para guru sudah mengenal istri saya….

Maria tersenyum. Tak lama ia masuk ke dalam kamar, dan keluar dengan sebuah amplop di tangan. “Mudah-mudahan uang ini cukup untuk mendaftar, membeli seragam dan perlengkapan sekolah. Datanglah tiap awal bulan. Saya akan memberikan uang bayaran sekolah pada Bapak.”

Begitulah. Selama beberapa waktu, secara teratur lelaki buta dan anaknya datang mengambil uang sumbangan dari Maria. Sementara Maria terus memberi pengertian pada tiga anaknya yang juga baru usia SD, untuk mau hidup lebih sederhana lagi, mengingat sebagian jatah belanja, Maria berikan pada mereka.

Enam bulan berlalu, sampai tiba-tiba datang si anak dengan seorang perempuan ke rumah Maria. Perempuan itu mengaku sebagai istri dari lelaki buta itu. Ia tampak murung sekali, lalu tangisnya tumpah saat bertemu Maria. Juga tangis anak lelaki buta itu.

“Suami saya kecelakaan! Ia sudah meninggal…, bu!!

Maria terpaku beberapa saat. “Innalillaahi wa inna ilaihi rooji’uun,” ujar Maria pelan. “Apakah sudah dikubur?” Air bening mengalir dari kedua pipi wanita yang baik hati ini.

“Belum, bu. Mayatnya masih di rumah sakit. Saya tidak punya uang untuk mengambilnya. Saya…juga nggak punya uang untuk membeli kafan, apalagi menguburkannya…, saya pusing, bu!” kata perempuan itu miris.

Maria mengusap airmatanya, menepuk-nepuk bahu perempuan itu dan mencoba meneguhkannya. “Saya akan bantu kamu. Ayo kita ke rumah sakit!”

“Tidak usah, bu. Ibu tidak usah ke sana. Mayatnya hancur, bu! Hampir tak bisa dikenali! Saya saja tidak kuat melihatnya! Biar paman saya saja yang ngurusin!”Permpuan itu terus menangis. “Saya mengharapkan dibantu uang sama ibu…,” katanya pada akhirnya.

Airmata Maria bergulir lagi. Disebutnya nama Allah berkali-kali. “Kasihan kamu dan anak-anak. Tetapi tabah ya. Ini cobaan dari Allah. Kamu tak akan pernah tahu balasan dari ketabahanmu sampai suatu saat.” Maria membuka dompetnya. Lalu entah berapa banyak, Maria memberikan semua isinya dan istri lelaki buta itu berulangkali mengucapkan terimakasih. Lalu bersama anaknya tergesa pergi.

Maria sangat sedih. Tetapi sejak dulu ia memang selalu saja tak tega. Ia ingin ikut ke rumah sakit dan membantu penyelenggaraan jenazah, namun rasa ibanya yang terlalu besar membuatnya tak mampu.

Maria tak pernah tahu kebenaran itu, sampai sebulan kemudian. Tetangga sebelah rumahnya bercerita, “Sungguh, Maria! Demi Allah, saya melihat lelaki itu dan anaknya. Sudah tiga kali ini! Mereka berboncengan sepeda, jualan es. Tidak mungkin saya salah lihat!”

Maria cuma terdiam.

“Saya lihat lelaki itu selalu beserta anaknya. Mereka menipumu, Maria! Anak itu tidak disekolahkan!”

Maria masih terdiam.

“Lelaki itu belum mati! Ia juga tidak buta! Ia bisa melihat saya dan membonceng anaknya naik sepeda! Kasihan, kamu benar-benar ditipu! Maaf, kabar buruk ini harus saya sampaikan!”

Maria menghela napas. Senyum khas-nya kembali tampak. “Jadi dia belum meninggal? Berarti anaknya tidak menjadi anak yatim? Ternyata dia juga tidak buta. Artinya, ia bisa melakukan lebih banyak hal untuk keluarganya. Termasuk untuk menyekolahkan anaknya,” Maria manggut-manggut. “Saya pikir ini adalah kabar terbaik yang saya dengar hari ini!” 

Ibu Yang Sangat Pengasih

Sejak dahulu, ibuku sangat suka menolong orang, bahkan bila tak diminta sekali pun. Kalau ada tetangga yang membangun rumah, maka ibu tanpa disuruh dan tanpa pamrih membuatkan es dan makanan kecil bagi para tukang bangunannya. Kala melihat tukang pos, tukang minyak tanah, asongan dan lain-lain, juga pengemis lewat, maka ibu akan menyapa mereka ramah dan mengajak mereka makan bersama di rumah.

Ibulah yang paling dulu tiba di tempat mereka yang terkena musibah. Ketika ada kebakaran atau bencana banjir, ibu segera datang ke lokasi dengan membawa pakaian bekas, makanan, apa saja yang bisa dibawanya. Padahal lokasi tersebut kadang jauh dan kami tak punya kendaraan pribadi. Ketika mendapat rezeki, ibu mengajakku menyusuri jalan raya dan pemukiman kumuh dengan berjalan kaki untuk memberi sesuatu bagi mereka yang membutuhkan, seraya mengajarkanku untuk selalu bersyukur. Tentu saja, ibu sering ditipu oleh mereka yang memanfaatkan kebaikan hatinya. Namun ia tak pernah jera untuk terus membantu mereka yang kesusahan.

Sungguh, ibuku bukan menteri sosial atau istri pejabat, tetapi ia telah menjadi ibu banyak orang sejak lama. Dalam kesederhanaan hidup, ia punya begitu banyak perhatian, pengertian dan cinta untuk dibagikan pada siapa pun, terutama mereka yang menderita dan terabaikan. Ya, perempuan hebat itu memiliki banyak teman dari berbagai kalangan yang juga mencintainya.

Ibu memang tak banyak mengajarkan kata, hanya perbuatan dan berjuta cinta untuk sesama. Dan sejak aku kecil, semua orang yang kujumpai selalu menatapku dengan takjub dan haru: “Engkaukah anak Maria yang pengasih itu?”

Ibuku Idolaku

Saya sudah bisa membaca dan menulis saat masih balita, karena ibu mengajarkan dengan penuh cinta Kami pernah hidup dengan sangat sulit di tepi sebuah rel kereta api. Tetapi apa yang ibu lakukan luar biasa. Saya sudah bisa membaca dan menulis saat balita, karena ibu mengajar dengan sabar.

Suatu hari saat berusia lima tahun, saya membuka koran bekas bungkus bawang dan cabai yang dibawa ibu pulang dari pasar. Saya baca semua dalam waktu singkat. Ibu terperangah, menatap saya dengan mata kaca.

Sejak itu, meski tak punya uang, ibu selalu membawakan saya sebuah buku cerita, sepulang dari pasar. Ibu hampir tak pernah beli baju, perhiasan atau barang-barang yang biasa dibeli oleh ibu teman-teman saya. Tapi wanita tercinta itu tak pernah berhenti mengepung saya dengan buku. Bahkan ibu membuat perpustakaan kecil di kamar saya.

Hari-hari itu seolah baru terjadi kemarin. Sapa lembut ibu, buku-buku baru dan bekas yang disampul rapi, rak-rak buku untuk perpustakaan mini kami, cerita-cerita ibu tentang buku-buku bagus yang dulu pernah dibacanya. Ide ibu untuk menyewakan buku di perpustakaan kami agar hasilnya bisa dibelikan buku baru. Menulis catatan harian bersama, membantu membuat majalah sendiri. Senyum, tawa dan semangat ibu membaca puisi dan cerita pendek yang saya tulis di bangku sekolah dasar, ajakannya ke perpustakaan. Jalan-jalan ke toko buku meski berjam-jam di sana kami hanya mampu membeli satu buku tipis….

Ah, ibu. Tahun demi tahun berlalu. Siapa kira, satu demi satu buku saya terbit. Buku-buku yang selalu ibu dekap dengan wajah haru dan ibu simpan di tempat yang bagus dan wangi. Ibunda tercinta, kau telah menciptakan seorang pengarang dari sebuah rumah kayu kecil, di pinggir rel kereta api. Tapi tahukah ibu, jutaan buku yang bisa saya tulis sekalipun tak akan pernah mampu menampung semua cinta dan terimakasih saya padamu, idola abadiku….

Doa Yang Selalu Dikabulkan


Pagi itu, 3 Mei 1998, dari Jakarta, saya diundang mengisi seminar di IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Saya duduk di bangku kedua dari depan sambil menunggu kedatangan pembicara lain, Mimin Aminah, yang belum saya kenal. Jam sembilan tepat, panitia menghampiri saya dan memperkenalkan ia yang baru saja tiba. Saya segera berdiri menyambut senyumnya yang lebih dulu merekah. Ia seorang yang bertubuh besar, ramah, dalam balutan gamis biru dan jilbab putih yang cukup panjang. Kami berjabat tangan erat, dan saat itu tegas dalam pandangan saya dua kruk (tongkat penyangga yang dikenakannya) serta sepasang kaki lemah dan kecil yang ditutupi kaos kaki putih. Sesaat batin saya hening, lalu melafazkan kalimat takbir dan tasbih.

Saat acara seminar dimulai, saya mendapat giliran pertama. Saya bahagia karena para peserta tampak antusias. Begitu juga ketika giliran Mimin tiba. Semua memperhatikan de-ngan seksama apa yang disampaikannya. Kata-kata yang dikemukakannya indah dengan retorika yang menarik. Wawasannya luas, pengamatannya akurat.

Saya tengah memandang wajah dengan pipi merah jambu itu saat Mimin berkata dengan nada datar. “Saya diuji Allah dengan cacat kaki ini seumur hidup saya.”

Ia tersenyum. “Saya lahir dalam keadaan seperti ini. Mungkin banyak orang akan pesimis menghadapi keadaan yang demikian, tetapi sejak kecil saya telah memohon sesuatu pada Allah. Saya berdoa agar saat orang lain melihat saya, tak ada yang diingat dan disebutnya kecuali Allah,” Ia terdiam sesaat dan kembali tersenyum. “Ya, agar mereka ingat Allah saat menatap saya. Itu saja.”

Dulu tak ada orang yang menyangka bahwa ia akan bisa kuliah. “Saya kuliah di Fakultas Psikologi,” katanya seraya menambahkan bahwa teman-teman pria dan wanita di Universitas Islam Bandung—tempat kuliahnya itu—senantiasa bergantian membantunya menaiki tangga bila kuliah diadakan di lantai dua atau tiga. Bahkan mereka hafal jam datang serta jam mata kuliah yang diikutinya. “Di antara mereka ada yang membawakan sebelah tongkat saya, ada yang memapah, ada juga yang menunggu di atas,” kenangnya.

Dan civitas academica yang lain? Menurut Mimin ia sering mendengar orang menyebut-nyebut nama Allah saat menatapnya. “Mereka berkata: Ya Allah, bisa juga ya dia kuliah,” senyumnya mengembang lagi. “Saya bahagia karena mereka menyebut nama Allah. Bahkan ketika saya berhasil menamatkan kuliah, keluarga, kerabat atau teman kembali memuji Allah. Alhamdulillah, Allah memang Maha Besar. Begitu kata mereka.”

Muslimah bersahaja kelahiran tahun 1966 ini juga berkata bahwa ia tak pernah bermimpi akan ada lelaki yang mau mempersuntingnya. “Kita tahu, terkadang orang normal pun susah mendapatkan jodoh…, apalagi seorang yang cacat seperti saya. Ya tawakal saja.”

Makanya semua geger, ketika tahun 1993 ada seorang lelaki yang saleh, mapan dan normal melamarnya. “Dan lagi-lagi saat walimah, saya dengar banyak orang menyebut-nyebut nama Allah dengan takjub. Allah itu maha kuasa, ya. Maha adil! Masya Allah, Alhamdulillah, dan sebagainya,” ujarnya penuh syukur.

Saya memandang Mimin dalam. Menyelami batinnya dengan mata mengembun.

“Lalu saat saya hamil, hampir semua yang bertemu saya, bahkan orang yang tak mengenal saya, menatap takjub seraya lagi-lagi mengagungkan asma Allah. Ketika saya hamil besar, banyak orang menyarankan agar saya tidak ke bidan, melainkan ke dokter untuk operasi. Bagaimana pun saat seorang ibu melahirkan otot-otot panggul dan kaki sangat berperan. Namun saya pasrah. Saya merasa tak ada masalah dan yakin bila Allah berkehendak semua akan menjadi mudah. Dan Alhamdulillah, saya melahirkan lancar dibantu bidan,” pipi Mimin memerah kembali. “Semua orang melihat saya dan mereka mengingat Allah. Allahu Akbar, Allah memang Maha Adil, kata mereka berulang-ulang.”

Hening. Ia terdiam agak lama.

Mata saya basah, menyelami batin Mimin. Tiba-tiba saya merasa syukur saya teramat dangkal dibandingkan nikmatNya selama ini. Rasa malu menyergap seluruh keberadaan saya. Saya belum apa-apa. Yang selama ini telah saya lakukan bukanlah apa-apa.

Astaghfirullah. Tiba-tiba saya ingin segera turun dari tempat saya duduk sebagai pembicara sekarang, dan pertamakalinya selama hidup saya, saya menahan airmata di atas podium. Bisakah orang ingat pada Allah saat memandang saya, seperti saat mereka memandang Mimin?

Saat seminar usai dan Mimin dibantu turun dari panggung, pandangan saya masih kabur. Juga saat seorang (dari dua) anaknya menghambur ke pelukannya. Wajah teduh Mimin tersenyum bahagia, sementara telapak tangan kanannya berusaha membelai kepala si anak. Tiba-tiba saya seperti melihat anak saya, yang selalu bisa saya gendong kapan saya suka. Ya, Allah betapa banyak kenikmatan yang Kau berikan padaku.

Ketika Mimin pamit seraya merangkul saya dengan erat dan berkata betapa dia men-cintai saya karena Allah, seperti ada suara menggema di seluruh rongga jiwa saya. “Subhanallah, Maha besar Engkau ya Robbi, yang telah memberi pelajaran pada saya dari pertemukan dengan hambaMu ini. Kekalkanlah persaudaraan kami di Sabilillah. Selamanya. Amin.”

Mimin benar. Memandangnya, saya pun ingat padaNya. Dan cinta saya pada Sang Pencipta, yang menjadikan saya sebagaimana adanya, semakin mengkristal.


(HTR, dari: Pelangi Nurani, Penerbit Syaamil, 2000) 

Allah, Siapkah Aku Bila Engkau Ingin Bertemu


KotaSantri.com - Pernahkah Anda melihat seseorang menjelang sakaratul maut? Berapakali Anda melihat mereka yang terbelalak ketakutan, yang kesakitan atau yang hanya seperti hendak tidur? Aku punya seorang teman dekat di SMU I Binjai bernama Wati. Ia dara berjilbab yang sangat cantik, supel, berbudi, senang menolong orang lain dan selalu menjadi juara kelas. Maka seperti mendengat petir disiang hari, saat kudengar ia yang sudah sekian lama tak masuk sekolah ternyata mengidap kanker rahim. Bahkan sudah menyebar hingga stadium empat!!

Sekolah kami berduka. Para aktivis rohis amat sedih. Wati adalah motor segala kegiatan dakwah. Ide-idenya segar. Ia selalu punya terobosan baru. Ia bisa mendekati dan disukai siapapun. Sungguh, kami tak memiliki Wati yang lain. Maka betapa pedih menatapnya hari itu. Ia tergolek lemah di ranjang. Badannya menjadi amat kurus. Wajahnya pasi. Setelah sakit berbulan-bulan, hari ini ia tak mampu lagi mengenali kami!

"Wati sudah sebulan ini tak bisa bangun," kata ibunya sambil mengusap air matanya.

Namun kami berbelalak, saat baru saja ibunya selesai bicara, perlahan Wati berusaha untuk bangun. Kami semua tercengang saat ia berdiri dan berjalan melintasi kami seraya berkata dengan suara nyaris tak terdengar, "Aku mau berwudhu dan shalat Dhuha."

Serentak kami semua berebutan membimbingnya ke kamar mandi. Setelah itu ibunya memakaikannya mukena dan sarung. Sementara ayahnya kembali membaringkannya di tempat tidur karena ia terlalu lemah untuk shalat sambil berdiri. Hening. Tak seorang pun yang bersuara saat ia melakukan shalat Dhuha. Selesai shalat, saat ibunya akan membukakan mukena, ia melarang dengan halus. Lalu lama sekali dipandanginya wajah ibu, ayah dan adik-adiknya satu persatu bergantian. Dari mulutnya terus menerus terdengar asma Allah. Kami yang menyaksikan tak kuat lagi menahan tangis.

Tiba-tiba Wati tersenyum. Ia memandang kami, teman-temannya, dengan penuh sayang. Lalu kembali memandang wajah ayah, ibu dan adik-adiknya bergantian. Kini kulihat butiran bening menetes dari sudut matanya. Lalu susah payah ia mengangkat kedua tangannya dan mendekapkannya di dada. Dengan tersenyum ia menutup kedua matanya sambil mengucapkan dua kalimat syahadat dengan sangat lancar. Innalillaahi wa inna ilaihi rooji'uun. Ia telah pergi untuk selamanya. Bagai melayang aku menyaksikan semua. Dadaku berdebar, lututku gemetar. Subhanallah, ia telah kembali dengan sangat sempurna dalam usia yang baru 18 tahun. Tiba-tiba, antara ilusi dan kenyataan, aku mencium wewangian. Tubuhku bergidik. Aku menangis terisak-isak.

Allah, siapkah aku bila Engkau ingin bertemu?

Seperti dituturkan sahabat Wati kepada Helvy Tiana Rosa - Disadur dari buku Lentera Kehidupan : Cerita Luar Biasa dari Orang-orang Biasa 

Agar Dia Tak Membuang Saya


Mukminah seorang penggembira yang senang menolong siapa saja. Di Panti Werdha I, Cipayung ini, ia selalu membantu para manula. Mulai dari mengambilkan makanan, menuntun mereka ke kamar mandi, menemani para orangtua itu memeriksakan kesehatan pada dokter keliling, menghibur, dan apa pun yang bisa dilakukannya. Hari-hari yang mungkin terasa suram, menjadi lebih cerah dengan kehadiran dan kebaikan perempuan gemuk, putih, bermata sipit itu.

“Saya harus berdoa. Saya senang ibadah…,” ujarnya sekali waktu.

Tetapi tak banyak yang tahu, apa yang ia ceritakan pada saya, di suatu hari. Dulu, ia adalah bayi kecil yang ditemukan di depan panti sebuah rumah sakit di Cirebon. Seorang Haji keturunan Arab mengambil dan membesarkannya. Kemudian ia menikah dengan seorang lelaki sederhana yang memberinya seorang putri cantik. Sayang, sang suami meninggal tak lama kemudian. Ia pun jatuh bangun membesarkan anak satu-satunya dengan segala rasa cinta dan tanggung jawab. Anaknya tumbuh dewasa, menikah, namun dililit kemiskinan. Menantunya yang bertemperamen kasar mengusirnya, sebelum mereka pindah entah kemana.

“Saya dibuang saat dilahirkan, lalu dibuang lagi di sini, ketika tua,” ujarnya pelan dengan mata berkaca-kaca. “Maka, apa yang ingin saya lakukan sekarang hanyalah berbuat kebaikan, agar satu-satunya harapan saya, Dia, meridhoi. Ya, agar Dia meridhoi, dan tidak membuang saya… di neraka.”

Setiap kali melewati Panti Werdha I, Cipayung, saya selalu teringat perkataan Mukminah, nenek berusia lebih dari 65 tahun itu, yang selalu senang menolong siapa saja. Dan saya selalu berdoa untuknya.


(HTR, dari Pelangi Nurani, Penerbit Syaamil, 2003)